Apa yang Harus Dilakukan Saat Udara Tercemar Asap Karhutla?

Daftar Isi

 Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat menurunkan kualitas udara secara drastis. Asap yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi membawa berbagai polutan, terutama partikel halus PM2.5, yang ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan bahkan mencapai aliran darah. (World Health Organization)

Kondisi ini membuat masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran maupun wilayah yang terdampak asap perlu melakukan langkah perlindungan untuk mengurangi paparan. Lalu, apa saja yang sebaiknya dilakukan ketika udara mulai tercemar asap karhutla?

Mengapa Asap Karhutla Berbahaya?

Asap karhutla merupakan campuran kompleks dari partikel dan berbagai gas. Salah satu komponen yang paling menjadi perhatian adalah PM2.5 karena partikelnya sangat kecil dan dapat menembus jauh ke dalam paru-paru. WHO mencatat bahwa sekitar 90% massa partikel yang dilepaskan dari kebakaran hutan berukuran PM2.5 atau lebih kecil. (World Health Organization)

Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sakit kepala, sesak napas, dan mengi. Pada kondisi yang lebih serius, paparan dapat memperburuk gangguan pernapasan maupun penyakit kardiovaskular. (World Health Organization)

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau kardiovaskular termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap. (World Health Organization)

Pantau Kondisi Kualitas Udara

Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah memantau kualitas udara di wilayah tempat tinggal. Jangan hanya mengandalkan jarak dari lokasi kebakaran karena asap dapat terbawa angin dan mencapai daerah yang cukup jauh dari sumber api. (World Health Organization)

Perhatikan informasi kualitas udara dan peringatan dari pemerintah atau lembaga terkait. Ketika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas di luar ruangan dan ikuti arahan resmi, termasuk apabila terdapat perintah untuk mengungsi. (World Health Organization)

Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Ketika asap karhutla mulai pekat, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik seperti berolahraga, bekerja, atau berkendara tanpa kebutuhan mendesak.

Semakin lama seseorang berada di udara yang tercemar, semakin besar pula jumlah polutan yang terhirup. WHO merekomendasikan pengurangan aktivitas luar ruangan ketika kondisi asap sedang berat. (World Health Organization)

Jika aktivitas di luar ruangan memang tidak dapat dihindari, usahakan waktunya sesingkat mungkin.

Gunakan Masker yang Tepat

Masker dapat membantu mengurangi paparan partikel dari asap, tetapi jenis masker sangat menentukan tingkat perlindungannya.

Jika harus berada di luar ruangan ketika asap pekat, gunakan respirator partikulat yang terpasang rapat seperti N95 atau standar setara. WHO juga menyebut FFP2 sebagai salah satu pilihan respirator yang dapat digunakan untuk mengurangi paparan partikel. (World Health Organization)

Masker harus menempel dengan baik pada wajah agar udara tidak banyak masuk melalui celah di sekitar hidung dan pipi. Perlu diingat bahwa respirator partikulat terutama dirancang untuk menyaring partikel, bukan seluruh jenis gas atau uap yang terdapat dalam asap. (Iris)

Tetap di Dalam Rumah Saat Asap Pekat

Jika kondisi lingkungan masih aman dan tidak ada perintah evakuasi, berada di dalam ruangan dapat membantu mengurangi paparan asap.

Tutup pintu dan jendela ketika konsentrasi asap di luar sedang tinggi. Namun, perlindungan di dalam rumah tidak selalu sempurna karena partikel dari luar masih dapat masuk melalui celah dan sistem ventilasi. (World Health Organization)

Jika rumah memiliki ruangan yang lebih tertutup dan memiliki pendingin udara dengan filtrasi yang baik, ruangan tersebut dapat digunakan sebagai tempat berlindung dari paparan asap.

Hindari Menambah Polusi di Dalam Rumah

Saat asap karhutla masuk ke lingkungan permukiman, jangan menambah sumber polusi udara dari dalam rumah.

Hindari sementara aktivitas seperti:

  • Merokok di dalam rumah.

  • Membakar sampah.

  • Menggunakan kompor atau tungku yang menghasilkan banyak asap.

  • Membakar dupa atau bahan lain yang menghasilkan asap.

  • Memasak dengan metode yang menghasilkan banyak asap tanpa ventilasi yang tepat.

WHO juga menyarankan mengurangi sumber polusi dalam ruangan selama episode asap kebakaran karena polusi dari dalam rumah dapat menambah beban partikel yang sudah tinggi akibat asap dari luar. (World Health Organization)

Gunakan AC dengan Mode Resirkulasi

Jika menggunakan AC ketika udara luar tercemar asap, gunakan mode recirculation/resirkulasi apabila tersedia. Tujuannya agar udara dari luar yang tercemar tidak terus-menerus ditarik masuk ke dalam ruangan. (World Health Organization)

Jika menggunakan kipas, perlu diperhatikan jenis dan arah aliran udaranya. Ketika asap berada di luar, kipas sebaiknya tidak digunakan untuk menarik udara luar masuk ke dalam rumah.

Jangan Memaksakan Diri Berolahraga

Aktivitas fisik meningkatkan frekuensi dan volume pernapasan. Akibatnya, jumlah udara yang masuk ke paru-paru juga meningkat.

Karena itu, olahraga di luar ruangan sebaiknya ditunda ketika kualitas udara sedang buruk. Pilih aktivitas di dalam ruangan yang memiliki kualitas udara lebih baik atau tunggu sampai kondisi udara membaik.

Perhatikan Kondisi Anak dan Lansia

Anak-anak dan lansia merupakan kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap. Anak-anak memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang, sedangkan lansia dapat memiliki kemampuan tubuh yang lebih rendah dalam menghadapi paparan polusi. (World Health Organization)

Selama kondisi asap buruk, batasi aktivitas luar ruangan mereka dan pastikan mereka berada di lingkungan dengan kualitas udara yang lebih baik.

Kenali Gejala Akibat Paparan Asap

Tubuh dapat memberikan tanda ketika mulai terdampak oleh polusi asap.

Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Mata terasa perih atau teriritasi.

  • Tenggorokan terasa sakit atau gatal.

  • Batuk.

  • Sakit kepala.

  • Pusing.

  • Mengi.

  • Sesak napas.

  • Nyeri dada.

  • Jantung berdebar.

Gejala ringan dapat muncul akibat iritasi, tetapi gejala yang lebih berat seperti sesak napas atau nyeri dada perlu mendapat perhatian medis. WHO menyarankan mencari pertolongan medis apabila muncul gejala akibat paparan asap. (World Health Organization)

Kapan Harus Mengungsi?

Perlindungan dari asap tidak berarti seseorang harus tetap berada di rumah dalam semua kondisi.

Jika pemerintah atau petugas terkait mengeluarkan perintah evakuasi, keselamatan dari ancaman api harus menjadi prioritas. Ikuti jalur dan lokasi evakuasi yang ditetapkan oleh pihak berwenang.

Asap juga dapat menjadi sangat berbahaya ketika kebakaran berubah arah atau kondisi angin berubah secara tiba-tiba. Karena itu, selalu perhatikan informasi resmi selama periode karhutla. (World Health Organization)

Bagaimana Jika Harus Berkendara?

Sebaiknya kurangi perjalanan yang tidak diperlukan ketika asap sedang tebal. Selain meningkatkan paparan polusi, asap juga dapat mengurangi jarak pandang dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Jika perjalanan benar-benar diperlukan, tutup jendela kendaraan dan gunakan sistem pendingin udara dalam mode resirkulasi agar udara luar yang tercemar tidak terus masuk ke kabin. (World Health Organization)

Kesimpulan

Asap karhutla bukan sekadar gangguan berupa bau atau pandangan yang berkabut. Di dalamnya terdapat partikel halus dan berbagai polutan yang dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan dan kardiovaskular.

Ketika udara tercemar asap karhutla, langkah yang dapat dilakukan adalah memantau kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan respirator yang sesuai ketika harus keluar, menutup pintu dan jendela, mengurangi sumber polusi di dalam rumah, serta memperhatikan kondisi kelompok rentan.

Yang tidak kalah penting, selalu ikuti informasi dan instruksi dari pemerintah atau petugas setempat. Jika kondisi menjadi berbahaya atau terdapat perintah evakuasi, jangan memaksakan diri untuk tetap berada di lokasi.

Dengan memahami cara mengurangi paparan asap, masyarakat dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk melindungi kesehatan selama terjadi karhutla.

Posting Komentar